ATRIBUSI
I. PENGERTIAN
ATRIBUSI
I.1 Menurut
Kelly (1967)
Atribusi adalah proses
mempersepsikan sifat-sifat dispositional (yang sudah ada) pada satuan-satuan
(entities) di dalam suatu lingkungan (environment).
I.2 Menurut
Myers (1996)
Atribusi adalah memperkirakan apa yang menyebabkan
orang lain itu berperilaku tertentu. Menurut Myers, kecenderungan memberi
atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala
sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan
bahwa atribusi adalah suatu elemen dari proses persepsi yang bisa sangat mempengaruhi sikap/tingkah
laku seseorang (menduga penyebab). Suatu elemen persepsi yang dapat diartikan
sebagai suatu proses bagaimana seseorang mencari kejelasan terhadap sebab akibat dari perilaku orang lain.
Ada
2 golongan yang menjelaskan suatu perilaku, yaitu:
a.
berasal dari orang yang bersangkutan
(atribusi internal).
b.
dan yang berasal dari lingkungan
atau luar diri orang yang bersangkutan (atribusi eksternal).
Contoh : X senang
menonton acara TV tertentu (missal: Srimulat), maka ada 2 kemungkinan: ia bias
menyatakan bahwa acara itulah yang memang menyenangkan ( atribusi eksternal)
atau bias menyatakan bahwa dirinyalah yang sedang dalam keadaan senang,
sehingga ia menyukai program TV tersebut (atribusi internal).
II.
DIMENSI-DIMENSI ATRIBUSI
Penyebab-penyebab personal (internal) vs penyebab-penyebab di lingkungan (eksternal) : penyebab dari dalam diri individu atau dilua
Penyebab-penyebab personal (internal) vs penyebab-penyebab di lingkungan (eksternal) : penyebab dari dalam diri individu atau dilua
- Stabilitas : sifat mudah atau tidaknya faktor penyebab berubah
- Controll ability : terkendali, berarti penyebab suatu kejadian berada di dalam kendali individu sendiri. Tidak terkendali, berarti faktor penyebab berasal dari luar diri individu.
III. KESALAHAN DALAM
ATRIBUSI
Bagaimanapun juga,
pemberian atribusi bisa salah. Kesalahan itu menurut Baron & Byrne (1994)
dapat bersumber pada beberapa hal:
1.
Kesalahan atribusi yang
mendasar (fundamental error)
Ini
adalah kecenderungan untuk melebih-lebihkan pengaruh disposisi pada
perilaku orang lain. Anda cenderung untuk menganggap bahwa perilaku orang lain
disebabkan oleh sikap, kepribadian, perasaan, emosi, kemampuan, kesehatan,
keinginan, niat, kesukaan, dan usaha. Anda kurang memperhatikan situasi dimana
perilaku itu timbul. kecenderungan untuk selalu memberi atribusi internal pada
orang lain.
Pada contoh mobil yang
mengebel terus menerus, kita selalu memberi atribusi internal pada dia
(pemarah, tidak sabar, dll).
2.
Efek Pelaku-Pengamat
Kecenderungan si pengamat untuk selalu memberi atribut internal pada orang lain dan sebagai pelaku cenderung memberikan atribut eksternal. Pada contoh mobil yang mengebel diatas, kita selalu memberi atribusi internal pada dia (pemarah, tidak sabar, dll), sedangkan setelah kita tanya, dia membela diri dengan alasan bermacam-macam, mungkin dengan alasan dia terburu-buru karena dia sedang membawa istrinya yang sedang hamil ke RS, dll (atribusi eksternal).
Kecenderungan si pengamat untuk selalu memberi atribut internal pada orang lain dan sebagai pelaku cenderung memberikan atribut eksternal. Pada contoh mobil yang mengebel diatas, kita selalu memberi atribusi internal pada dia (pemarah, tidak sabar, dll), sedangkan setelah kita tanya, dia membela diri dengan alasan bermacam-macam, mungkin dengan alasan dia terburu-buru karena dia sedang membawa istrinya yang sedang hamil ke RS, dll (atribusi eksternal).
3.
Pengutamaan Diri Sendiri
Setiap
orang cenderung untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Saya
pribadi, kadang melakukan hal yang sama dengan memencet klakson bila kendaraan
didepan lajunya lambat sekali padahal lampu lalu lintas sudah berubah jadi
hijau. Kita sering menyalahkan orang lain, tapi kadang kita tidak sadar bahwa
kita pernah bahkan sering melakukan hal yang sama dengan orang yang kita
salahkan.
4.
Menyalahkan diri
(self-blame)
Menyalahkan
diri (self blame) adalah kecenderungan seseorang untuk secara berlebihan
menyalahkan diri sendiri, terutama bila mengalami kegagalan. Mungkin Anda
sering menemui orang seperti ini. Apapun kejadiannya, selalu diri sendiri
disalahkan. Ada teman sedih, menyalahkan diri sendiri tidak mampu menyenangkan
hati sang teman. Suami gagal dalam usahanya, menyalahkan diri sendiri tidak
cukup banyak membantunya.
5.
Efek relevansi dengan
keuntungan pribadi (hedonic relevance)
Ini
adalah kecenderungan seseorang untuk menilai lebih positif perilaku orang lain
yang menguntungkan dirinya pribadi, dan menilai lebih negatif perilaku yang merugikan
dirinya. Misalnya teman Anda mencuri buah di kebun tetangga. Jika Anda mendapat
bagian buah curian (positif bagi Anda), maka Anda cenderung menganggapnya
melakukan pencurian hanya untuk senang-senang saja. Sebaliknya jika Anda tidak
mendapat bagian (negatif bagi Anda), maka Anda menganggap teman Anda berjiwa
maling.
6.
Bias egosentrisme
Ini
adalah kecenderungan seseorang untuk
menilai orang dengan menggunakan diri sendiri sebagai referensi, alias
beranggapan orang lain juga melakukan hal yang sama. Misalnya Anda membaca buku
karena mengisi waktu luang. Maka Anda menganggap orang lain membaca buku juga
untuk mengisi waktu luang. Padahal boleh jadi tugasnya menuntut untuk membaca
buku.
IV. TEORI ATRIBUSI
1 1. Teori
Penyimpulan terkait (Jones dan Davis)
Perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya. Jadi kalau kita mengamati prilaku orang lain dengan cermat, kita dapat mengambil berbagai kesimpulan. Misal orang tersenyum tentunya sedang senang hati atau ramah.
Jones dan Davis (1965) dan Jones danMcGillis (1976) mengemukakan hal-hal khusus yang harus diamati untuk lebih menjelaskan Atribusi sebagai berikut:
Perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya. Jadi kalau kita mengamati prilaku orang lain dengan cermat, kita dapat mengambil berbagai kesimpulan. Misal orang tersenyum tentunya sedang senang hati atau ramah.
Jones dan Davis (1965) dan Jones danMcGillis (1976) mengemukakan hal-hal khusus yang harus diamati untuk lebih menjelaskan Atribusi sebagai berikut:
v Perilaku yang
timbul karena kemauan orang itu sendiri.
v Perilaku yang
membuahkan hasil yang tidak lazim akan lebih mencerminkan Atribusi pelaku dari pada
yang hasilnya berlaku umum.
v Memunculkan sifat
yang tidak umum.
2.
Teori
Sumber Perhatian Dalam Kesadaran
Teori ini lebih menekankan proses yang terjadi pada kognisi orang yang melakukan persepsi. Gillbert mengemukakan bahwa atribusi harus melewati kognisi dan dalm kognisi terjadi tiga tahap:
Teori ini lebih menekankan proses yang terjadi pada kognisi orang yang melakukan persepsi. Gillbert mengemukakan bahwa atribusi harus melewati kognisi dan dalm kognisi terjadi tiga tahap:
·
Kategorisasi
Dalam
tahap ini pengamat menggolongkan dulu perilaku orang yang diamati dalam
jenis atau golongan tertentu sesuai dengan bagan atau skema yang telah terekam.
·
Karakterisasi
Pengamat memberi atribusi kepada pelaku
berdasarkan kategorisasi tersebut.
·
Koreksi
mengubah atau memperbaiki kesimpulan yang ada
pada pengamat tentang pelaku.
3.
Teori
Atribusi internal dan Eksternal dari Kelley(1972; Kelley dan Michela)
Ada
3
hal untuk melihat apakah itu suatu prilaku beratribusi internal atau
eksternal:
- Konsensus
Yaitu,apakah
perilaku cenderung dilakukan oleh semua orang pada situasi yang
sama.makin banyak yang melakukan makin tinggi konsensus dan sebaliknya.
- Konsistensi
Apakah
pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan prilaku yang sama dimasa lalu
dalam situasi yang sama.kalau “ya” konsistensinya tinggi dan sebaliknya.
- Distingsi
atau kekhususan
Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung
melakukan prilaku yang sama dimasa lalu dalam situasi yang
berbeda.kalau”ya” Distingsinya tinggi dan sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
1.
SARWONO, WIRAWAN,
SARLITO, Dr. 2000. Teori-teori PSIKOLOGI
SOSIAL. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Cetakan kelima.
2.
HUDANIAH,
S.Psi., & Dayakisni, Tri, M.Si. PSIKOLOGI
SOSIAL. Malang: Katalog Dalam Terbitan (KDT). Cetakan Kedua November 2003.
3.
http://psikologi-online.com