Sabtu, 09 Februari 2013

PENGERTIAN ATRIBUSI - PSIKOLOGI


                                                                              ATRIBUSI

I. PENGERTIAN ATRIBUSI

I.1 Menurut Kelly (1967)
Atribusi  adalah proses mempersepsikan sifat-sifat dispositional (yang sudah ada) pada satuan-satuan (entities) di dalam suatu lingkungan (environment).
I.2 Menurut Myers (1996)
            Atribusi adalah memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu. Menurut Myers, kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa atribusi adalah suatu elemen dari proses persepsi yang bisa sangat mempengaruhi sikap/tingkah laku seseorang (menduga penyebab). Suatu elemen persepsi yang dapat diartikan sebagai suatu proses bagaimana seseorang mencari kejelasan terhadap sebab akibat dari perilaku orang lain.
Ada 2 golongan yang menjelaskan suatu perilaku, yaitu:
        a.       berasal dari orang yang bersangkutan (atribusi internal).
        b.      dan yang berasal dari lingkungan atau luar diri orang yang bersangkutan (atribusi eksternal).

Contoh : X senang menonton acara TV tertentu (missal: Srimulat), maka ada 2 kemungkinan: ia bias menyatakan bahwa acara itulah yang memang menyenangkan ( atribusi eksternal) atau bias menyatakan bahwa dirinyalah yang sedang dalam keadaan senang, sehingga ia menyukai program TV tersebut (atribusi internal).

II. DIMENSI-DIMENSI ATRIBUSI

 Penyebab-penyebab personal (internal) vs penyebab-penyebab di lingkungan (eksternal) : penyebab dari dalam diri individu atau dilua

  • Stabilitas : sifat mudah atau tidaknya faktor penyebab berubah 
  •  Controll ability : terkendali, berarti penyebab suatu kejadian berada di dalam kendali individu sendiri. Tidak terkendali, berarti faktor penyebab berasal dari luar diri individu.

III. KESALAHAN DALAM ATRIBUSI

Bagaimanapun juga, pemberian atribusi bisa salah. Kesalahan itu menurut Baron & Byrne (1994) dapat bersumber pada beberapa hal:
      1.      Kesalahan atribusi yang mendasar (fundamental error)
Ini adalah kecenderungan untuk melebih-lebihkan pengaruh disposisi pada perilaku orang lain. Anda cenderung untuk menganggap bahwa perilaku orang lain disebabkan oleh sikap, kepribadian, perasaan, emosi, kemampuan, kesehatan, keinginan, niat, kesukaan, dan usaha. Anda kurang memperhatikan situasi dimana perilaku itu timbul. kecenderungan untuk selalu memberi atribusi internal pada orang lain.
Pada contoh mobil yang mengebel terus menerus, kita selalu memberi atribusi internal pada dia (pemarah, tidak sabar, dll).

      2.      Efek Pelaku-Pengamat
                 Kecenderungan si pengamat untuk selalu memberi atribut internal pada orang lain dan sebagai pelaku cenderung memberikan atribut eksternal. Pada contoh mobil yang mengebel diatas, kita selalu memberi atribusi internal pada dia (pemarah, tidak sabar, dll), sedangkan setelah kita tanya, dia membela diri dengan alasan bermacam-macam, mungkin dengan alasan dia terburu-buru karena dia sedang membawa istrinya yang sedang hamil ke RS, dll (atribusi eksternal).

      3.      Pengutamaan Diri Sendiri
Setiap orang cenderung untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Saya pribadi, kadang melakukan hal yang sama dengan memencet klakson bila kendaraan didepan lajunya lambat sekali padahal lampu lalu lintas sudah berubah jadi hijau. Kita sering menyalahkan orang lain, tapi kadang kita tidak sadar bahwa kita pernah bahkan sering melakukan hal yang sama dengan orang yang kita salahkan.

      4.      Menyalahkan diri (self-blame)
Menyalahkan diri (self blame) adalah kecenderungan seseorang untuk secara berlebihan menyalahkan diri sendiri, terutama bila mengalami kegagalan. Mungkin Anda sering menemui orang seperti ini. Apapun kejadiannya, selalu diri sendiri disalahkan. Ada teman sedih, menyalahkan diri sendiri tidak mampu menyenangkan hati sang teman. Suami gagal dalam usahanya, menyalahkan diri sendiri tidak cukup banyak membantunya.

      5.      Efek relevansi dengan keuntungan pribadi (hedonic relevance)
Ini adalah kecenderungan seseorang untuk menilai lebih positif perilaku orang lain yang menguntungkan dirinya pribadi, dan menilai lebih negatif perilaku yang merugikan dirinya. Misalnya teman Anda mencuri buah di kebun tetangga. Jika Anda mendapat bagian buah curian (positif bagi Anda), maka Anda cenderung menganggapnya melakukan pencurian hanya untuk senang-senang saja. Sebaliknya jika Anda tidak mendapat bagian (negatif bagi Anda), maka Anda menganggap teman Anda berjiwa maling.

      6.      Bias egosentrisme
Ini adalah kecenderungan seseorang untuk  menilai orang dengan menggunakan diri sendiri sebagai referensi, alias beranggapan orang lain juga melakukan hal yang sama. Misalnya Anda membaca buku karena mengisi waktu luang. Maka Anda menganggap orang lain membaca buku juga untuk mengisi waktu luang. Padahal boleh jadi tugasnya menuntut untuk membaca buku.


IV. TEORI ATRIBUSI

1    1. Teori Penyimpulan terkait (Jones dan Davis)
                  Perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya. Jadi kalau kita mengamati prilaku orang lain dengan cermat, kita dapat mengambil berbagai kesimpulan. Misal orang tersenyum tentunya sedang senang hati atau ramah.
                  Jones dan Davis (1965) dan Jones danMcGillis (1976) mengemukakan hal-hal khusus yang harus diamati untuk lebih menjelaskan Atribusi sebagai berikut:
v  Perilaku yang timbul karena kemauan orang itu sendiri.
v  Perilaku yang membuahkan hasil yang tidak lazim akan lebih       mencerminkan Atribusi pelaku dari pada yang hasilnya berlaku umum.
v   Memunculkan sifat yang tidak umum.

     2.      Teori Sumber Perhatian Dalam Kesadaran
                 Teori ini lebih menekankan proses yang terjadi pada kognisi orang yang melakukan persepsi. Gillbert mengemukakan bahwa atribusi harus melewati kognisi dan dalm kognisi terjadi tiga tahap:
·         Kategorisasi
Dalam tahap ini pengamat menggolongkan  dulu perilaku orang yang diamati dalam jenis atau golongan tertentu sesuai dengan bagan atau skema yang telah terekam.
·         Karakterisasi
  Pengamat memberi atribusi kepada pelaku berdasarkan kategorisasi tersebut.
·         Koreksi
   mengubah atau memperbaiki kesimpulan yang ada pada pengamat tentang pelaku.

     3.      Teori Atribusi internal dan Eksternal dari Kelley(1972; Kelley dan Michela)
Ada 3 hal untuk melihat apakah itu  suatu prilaku beratribusi internal atau eksternal:
-   Konsensus
Yaitu,apakah perilaku cenderung dilakukan oleh semua orang  pada situasi yang sama.makin banyak yang melakukan makin tinggi konsensus dan sebaliknya.
-   Konsistensi
Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan prilaku yang sama dimasa lalu dalam situasi yang sama.kalau “ya” konsistensinya tinggi dan sebaliknya.
-  Distingsi atau kekhususan
 Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan prilaku yang sama dimasa lalu dalam situasi yang berbeda.kalau”ya”  Distingsinya tinggi dan sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA

1.      SARWONO,  WIRAWAN,  SARLITO, Dr. 2000. Teori-teori PSIKOLOGI SOSIAL. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Cetakan kelima.
2.      HUDANIAH, S.Psi., & Dayakisni, Tri, M.Si. PSIKOLOGI SOSIAL. Malang: Katalog Dalam Terbitan (KDT). Cetakan Kedua November 2003.
3.      http://psikologi-online.com

2 komentar: